‘Idul Fithri


Menyambut Idul Fitri

Selain gagap gempita, yang kita saksikan dalam penyambutan Idul Fitri di Indonesia adalah suasana penuh nuansa kultural, khas dan menjadi pesta rakyat yang paling meriah. Idul fitri bahkan memperoleh ungkapan khusus LEBARAN, yang mengandung makna tersendiri. tidak diketahui kapan ungkapan tersebut pertama kali digunakan. Namun kartu lebaran pertama di Hindia Belanda beredar pada tahun 1927.

Tradisi lebaran itu, menurut budayawan Dr Umar Khayam, merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam yang luar biasa, melalui peran kearifan para ulama memadukan kedua budaya tersebut, kini tradisi itu telah meluas ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan melibatkan masyarakat dari berbagai pemeluk agama. Tradisinya terus tumbuh dan inovasinya tidak pernah berhenti, dari tempo doeloe sampai sekarang.

Sunan Kalijaga misalnya, dalam menyambut Lebaran memperkenalkan kupatan, KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, konon disebut yang memperkenalkan halal bihalal. Di berbagai daerah, masyarakat secara kolektif juga kreatif mengintrodusir tradisi menyambut Ramadhan maupun Lebaran. Kini, di kota-kota besar, berkembang tradisi buka puasa bersama, ngabuburit dengan grup musik dan lain sebagainya. Acara televisi dan radio pun dibuat menjadi lebih semarak. semua ini dimaksudkan agar puasa terasa menyenangkan dan Lebaran menjadi puncak harapan.

Kritik bisa saja dialamatkan bahwa Idul Fitri telah kehilangan esensinya, menjadi semata-mata Lebaran, jauh dari yang diinginkan syariat; demikian pula Ramadhan. Faktanya memang dapat ditunjukkan, salah satunya adalah meningkatnya pengeluaran rumah tangga masyarakat. ini menunjukkan puasa dan lebaran justru menjadikan kita semakin boros, biaya konsumsi meningkat. Tidak percaya? lihat indikator sederhana ini, bahwa selama bulan Ramadhan, apalagi saat Lebaran, volume sampah rumah tangga justru meningkat signifikan. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga meningkat. Jelas ironis dilihat dari sudut tujuan puasa dan Idul Fitri. Namun, kritik apapun, semua tergantung argumennya. Yang pasti Hari Raya sebagai bentuk sukacita keagamaan memiliki makna tersendiri, baik secara syariat maupun sosio-kultural. Penting dicatat bahwa keimanan tidak bisa diverbalkan setepat-tepatnya, sebab sifatnya terlalu mendalam, terlalu personal dan terlalu ilahi.

Sebuah doktrin secara sosiologis akan bermakna jika ia terkait erat secara struktural dalam kehidupan sosial, dan idealnya terefleksi dan memberi dasar kultural bagi pola tindakan para penganutnya. Terobosan akulturasi Idul Fitri menjadi Lebaran diatas memenuhi tuntutan tersebut, berhasil mempertemukan dan mendialogkan antara tuntutan doktrin dengan tuntutan kenyataan lingkungan sosialnya. Itu sebabnya, betapapun di sana-sini pelaksanaan Ramadhan dan Lebaran ada kesan boros, hura-hura, dan seterusnya, namun tetap menghasilkan sukacita sakral, dan ketamakan keduniaan melebur menjadi ketentraman sakral melalui pesan peran moral yang dipancarkannya.

Disini tidak ada deteologisasi dalam menilai Idul Fitri, sebaliknya justru berlangsung proses teologisasi terhadap sistem tindakan dan kenyataan lingkungannya –bahwa masyarakat dalam menjalani tradisi itu menghayatinya sebagai tindakan religius. Bahwa doktrin yang menjadi dasar kenyataan batiniah itu telah mewarnai hal-hal yang ordiner pada kenyataan lingkungannya. Hasilnya, sebuah perayaan Idul Fitri yang penuh nuansa kultural, tidak sebaliknya, mendistorsif, dan sekaligus pesan moralnya. Inilah Idul Fitri kita, sebuah Lebaran. Strategi kebudayaan semacam ini barang kali yang tersembunyi dari pesan Rasulullah SAW ketika memerintahkan para gadis dan wanita-wanita yang dipingit saat Idul Fitri untuk keluar rumah; dan mengizinkan para sahabat bersuka cita sambil bermain tameng dan tombak serta bernyanyi.

Lalu aspek fungsional apa yang secara sosial dan politik dapat dikapitalisasi dari Lebaran? ada dua unsur penting dari tradisi Lebaran di berbagai tempat di tanah air, yaitu silaturrahmi dan saling memaafkan. Ini khas Indonesia. Keduanya oleh masyarakat kita ditempatkan sebagai mekanisme sosial untuk mencapai kondisi fitri secara horizontal (hablumminannas) guna menyempurnakan capaian fitri yang vertikal (hablumminallah) dari berpuasa. Unsur penting lainnya adalah zakat dan sedekah. Meskipun pelaksanaannya tidak seekspresif dua unsur yang disebut pertama, namun keduanya ditempatkan menjadi bagian integral dari penyempurnaan fitri, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Penemuan etik seperti ini, yang bersumber pada pengertian fitrah, menjadi sosial-capital penting.

Bagaimana? melalui silaturrahmi dan saling memaafkan serta zakat dan sedekah, kohesivitas sosial akan menjadi segar kembali. Sekat-sekat sosial dan politik terbuyarkan dan menjadi nisbi. yang tersisa tinggal humanisme, rasa kasih sayang sesama. bukankah dari sisi doktrin silaturrahmi disebut dapat memperpanjang umur dan memperluas rezeki! dalam maknanya selain pada ‘panjang umur’ manifestasinya bisa juga pada level kolektif berupa usia sebuah rezim politik, apapun tingkatannya, dari negara hingga satuan-satuan organisasi di tingkat masyarakat. demikian pula ‘dapat memperluas rezeki’ pemaknannya bisa bersifat kolektif, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Elaborasinya jelas, sebab silaturrahmi adalah sebuah bentuk interaksi sosial dengan makna yang jauh lebih luas dan mendalam dibandingkan bentuk interaksi lainnya, ada kehangatan humanistik transendental sehingga keakraban lebih terasa didalamnya; sesuai dengan asal katanya, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambung atau menghimpun, dan ar rahimyang berarti kasih sayang. memperkuat hubungan demikian tidak terbatas pada hubungan kekerabatan, tapi lebih luas lagi. bukan pula terbatas pada hubungan di lingkungan umat Islam. Namun karena kata ar rahim merupakan salah satu asma Allah, pengertiannya dapat dikembangkan menjadi lebih universal, bisa dalam satu bangsa dan seterusnya. Bayangkan bisa silaturrahmi demikian dapat diaplikasikan untuk merangsang dan mendorong tumbuhnya sektor perdagangan dan jasa misalnya, maka dapat dipastikan menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan yang amat luas. Inilah berkah silaturrahmi.

Demikian pula secara politik, mekanisme silaturrahmi demikian, jika berlangsung luas, akan dapat mendorong terbentuknya solidaritas (tadhamun/takaful) dan solidaritas politik yang luas pula. bisa menjadi mekanisme untuk konsolidasi. bahkan ampuh sebagai instrument mencegah berkembangnya potensi konflik. Dalam hadist disebutkan, bahwa silaturrahmi itu ialah untuk menyambungkan apa yang telah putus, bukan sebaliknya; putusnya entah disebabkan karena konflik politik, atau lainnya. Jadi bila silaturrahmi dapat dikembangkan secara luas, maka pengaruh politiknya secara jelas menghasilkan ketenteraman sosial dan stabilitas politik.

Demikianlah silaturrahmi dalam tradisi Lebaran telah menjadi mekanisme sosial yang otonomi dan cara bagi masyarakat untuk memulihkan dan menyegarkan kembali hubungan sosial mereka. Ketegangan dan konflik menjadi cair, dan masyarakat kembali pada fitrah sosialnya, yakni humanisme dan rasa kasih sayang sesama. Bandingkan dengan falsafahhomo homini lupus bellum omnium contra omnes dari Thomas Hobbes.

Sementara itu, apabila zakat fitrah secara doktriner dipandang sebagai instrumen dimana puasa dan amalan-amalannya menjadi “syarat yang memungkinkan” diterima oleh NYA, maka zakat dan jenis zakat lainnya serta sedekah, dalam tradisi lebaran menjadi instrumen dan syarat sosial untuk membangun semangat sosialistis, sehingga, atas karenanya kesempurnaan kembali ke fitrah sosial dapat dicapai. Disini keselamatan sosial diharapkan. Bukankah dalam doktrin disebutkan, bahwa sedekah dapat mencegah “bala”. Bala’manifestasinya bisa bermacam-macam, dari yang bersifat individual sampai kolektif, termasuk didalamnya konflik politik. Makna inilah yang mendorong mengapa masyarakat lebih memilih mengeluarkan zakat serta beberapa sedekah saat Lebaran. Sementara ‘saling memaafkan’ menjadi sumber legitimasi dari sistem sosial itu sehingga dapat diperteguh kembali.

Perhatikanlah, setelah saling memaafkan, dalam tradisi Lebaran, biasanya dilengkapi denganja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang). Ucapan ini tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang berkembang di masyarakat di Indonesia. Dengan ucapan itu hendak ditegaskan bahwa kita telah berhasil menunjukkan ketamakan keduniaan dan egoism sosial atau politik diantara sesama dan kita kembali ke fitrah secara menyeluruh.
Dengan demikian, Leberan dapat menjadi mekanisme ampuh untuk konsolidasi sosial dan politik, untuk mencegah berkembangnya fragmentasi, agar ruang konflik sosial dan politik tidak sempat berkembang menjadi bala’. Inilah politik Lebaran. bukankah ketertiban dan ketenteraman sosial dan politik merupakan faktor penentu tegaknya syariat, mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan. Maka seyogyanya kita jadikan Lebaran ini untuk membangun solidaritas sosial, ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah. Kepada warga NU dan seluruh warga bangsa Indonesia, dalam Lebaran ini saya mengajak untuk mengembangkan silaturrahmi yang lebi luas, melintasi batas keluarga, batas kekerabatan, batas kelompok, suku dan agama, untuk meraih tujuan kemaslahatan bersama.


Tradisi Lebaran dan Halal Bihalal

Setelah menjalankan puasa pada bulan Ramadhan semua kaum muslimin merayakan hari raya Idul Fitri atau yang lebih akrap dengan istilah Lebaran di samping itu pesan moral agama Islam kita dianjurkan dengan memperbanyak minta ampun pada Tuhan tidak akan sempurna kalau tidak diteruskan saling memaafkan sesama manusia, khususnya dengan keluarga, tetangga, dan kerabat.

Maka setelah salat, dilanjutkan saling berkunjung untuk silaturahmi, minta maaf, dimulai dari permohonan maaf dan doa dari anak kepada orang tua, dilanjutkan pada sanak saudara yang dianggap lebih tua.

Di kampung, setiap keluarga menyediakan makanan beraneka ragam untuk menjamu tamu-tamu yang datang, tua-muda, besar-kecil, layaknya sebuah warung gratis. Yang membuat Lebaran di kampung menjadi semakin meriah adalah keterlibatan anak-anak yang ikut bertamu ke rumah-rumah untuk menikmati makanan yang terhidang.

Mereka berpakaian baru karena dalam tradisi kampung saat yang paling tepat membelikan pakaian anak-anaknya adalah untuk ber-Lebaran. Ketika bertamu, ada kerabat yang suka membagi uang untuk anak-anak. Ketika waktu dhuhur tiba, anak-anak berkumpul di masjid. Mereka saling tukar cerita makanan yang enak-enak.

Kenangan ini melekat sampai tua, indah dikenang dan menjadi daya tarik untuk pulang mudik, menapak tilas. Fenomena pulang mudik Lebaran akan tetap bertahan selama fenomena urbanisasi berlangsung. Beberapa orang tua yang tinggal di kota besar sengaja mengajak anak-anaknya pulang mudik agar mengenal suasana desa dan asal-usul leluhurnya.

Bahkan hitung-hitung rekreasi. Jadi, sesungguhnya pesta Lebaran memiliki banyak dimensi, ada dimensi religi, kultural, dan rekreasi. Kalau saja pemerintah mampu memberi fasilitas yang bagus, sesungguhnya peristiwa mudik Lebaran sangat positif untuk pemerataan ekonomi.Lebih bagus lagi kalau setiap warga desa yang telah sukses memanfaatkan pulang mudik untuk ramai-ramai memajukan lembaga pendidikan di desanya.

Misalnya saja memperbaiki perpustakaan sekolah dan desa serta memperbanyak koleksi buku-bukunya. Jadi, kalau tidak dikelola dengan cerdas, pesta mudik bisa saja dianggap sebagai beban pemerintah. Padahal sesungguhnya sebuah aset budaya yang sangat positif konstruktif bagi kohesi dan pembangunan bangsa.

Kapan pesta mudik semakin populer? Mungkin berkaitan dengan laju urbanisasi ketika anak-anak desa mulai memilih bekerja di kota, berkat pendidikan yang mereka miliki, dan iming-iming kota besar yang menggiurkan.Kalau itu sebagai patokan, memasuki dekade 80- an fenomena mudik ini mengemuka.

Banyak warga desa yang hijrah ke kota dan mereka ramai-ramai memilih berlebaran di kampung halaman. Mereka yang memiliki darah perantau, mudik juga menjadi peluang untuk menggembirakan orang tua, menunjukkan bahwa dirinya sukses. Mereka datang dengan kendaraan bagus dan membawa uang untuk dibagi-bagi sebagai rasa syukur.Tapi, ada saja orang-orang yang berperilaku kekanak-kanakan.

Pulang mudik Lebaran dijadikan kesempatan untuk pamer kekayaan dan keberhasilan di hadapan warga kampung.Malahan ada yang memaksakan diri dengan cara berutang agar kelihatan berhasil di mata tetangganya. Tentu ini bertentangan dengan semangat Idul Fitri. Mereka sengaja membawa mobil bagus, bahkan ada yang sengaja menyewa kendaraan khusus untuk bergaya sewaktu Lebaran.

Begitu pun remajanya, datang ke kampung dengan membawa gaya hidup kota besar yang hanya menyakitkan dan menimbulkan iri anak-anak desa yang miskin dan kurang berpendidikan. Yang menarik setiap pulang mudik adalah suasana meriah bercampur damai. Kriminalitas relatif kecil. Di perjalanan semua saling tersenyum bertegur sapa.

Bahkan dewasa ini, ada tradisi halal bihalal diselenggarakan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat muslim Indonesia, baik oleh kelompok dari suatu daerah tertentu, keluarga besar, kelompok kerja, kelompok pedagang, organisasi sosial-politik lembaga perusahaan swasta maupun intansi pemerintah. Dengan demikian tergabung dalam beberapa kelompok yang berbeda mengikuti kegiatan halal bihalal. Asal-usul tradisi halal bihalal, dari daerah mana, siapa yang memulai dan kapan kegiatan tersebut mulai diselenggarakan sulit diketahui dengan pasti. Karena, tradisi “sembah sungkem” (datang menghadap untuk menyatakan hormat dan bakti kepada orang tua, orang yang lebih tua, atau orang yang lebih tinggi status sosialnya) sudah membudaya dan ada pada pada hampir semua suku dalam masyarakat Indonesia.

Halal bihalal merupakan istilah yang sudah sangat dikenal di negeri ini. Sebagian besar masyarakat kita menganggap kata-kata ini berasal dari bahasa Arab. Nikolaos Van Dam, seorang ahli sastra Arab pun mengira demikian. Ketika ia bertugas sebagai duta besar di Indonesia tahun 2005 lalu, baru mengenal istilah itu. Sebelumnya ia hanya mengenal kata halal. Ia mencari-cari dalam kamus bahasa Arab , tapi tidak menemukannya. Kata halal bihalal tentu tidak akan kita temukan di dalam kamus , juga dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits, karena bukan bahasa Arab.

Halal bihalal merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata halal, kata penghubung ba ( dibaca bi ) dan kata halal lagi. Halal berarti “boleh”, “diizinkan”, atau “tidak dilarang”. Bi berarti “dengan”. Ketiga kata itu berasal dari bahasa Arab. Tapi penggabungan tiga kata ini tidak dikenal dalam kosa kata bahasa Arab. Halal dengan halal, artinya saling menghapus segala hal yang dilarang, seperti dosa dan kesalahan terhadap orang lain.

Halal bihalal dimaksudkan sebagai suatu acara bermaaf-maafan setelah selesai melaksanakan puasa Ramadhan atau pada hari raya dan sesudahnya. Istilah ini memang khas Indonesia, sehingga bagi yang bukan orang Indonesia pengertiannya akan kabur, walaupun ia mengerti bahasa Arab, seperti dubes Belanda itu.

Secara etimologis kata halal berasal dari kata halla atau halala yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai dengan rangkaian kalimatnya. Menurut Quraish Shihab, makna-makna tersebut antara lain adalah”menyelesaikan problem atau kesulitan”; ”meluruskan benang kusut”; mencairkan yang membeku”, atau “melepaskan ikatan yang membelenggu”.

Dengan demikian bisa kita pahami kata halal bihalal ini dimaksudkan sebagai keinginan adanya sesuatu yang mengubah hubungan kita dari yang tadinya keruh menjadi jernih, dari yang beku menjadi cair, dan dari yang terikat menjadi terlepas atau bebas.

Walau pun istilah halal bihalal itu khas Indonesia dan tidak ada pada zaman Nabi saw, namun bukan berarti pada masa itu tidak ada ungkapan silaturahim. Hanya pada waktu itu tidak ada acara seremonial yang khusus untuk silaturahim.

Watsilah, seorang sahabat Nabi, menuturkan, ketika ia bertemu Nabi saw pada hari raya, ia berkata,”Taqabbalallahu minna wa minka” (Semoga Allah menerima ibadah kami dan anda ). Nabi saw kemudian menjawab,”Na’am, taqabbalallahu minna wa minka” ( Ya, semoga Allah menerima ibadah kami dan anda ). Ucapan ini merupakan salah satu bentuk ungkapan silaturahim, karena saling mendoakan.

Para sahabat Nabi pada hari raya apabila bertemu juga mengucapkan kata-kata itu. Kataminka (dari anda) merupakan bentuk tunggal, sedang bentuk jamaknya adalah minkum.Dalam bahasa Arab bentuk jamak sering digunakan sebagai penghormatan kepada lawan bicara, seperti ucapan Assalamu’laikum, walaupun diucapkan hanya kepada satu orang.

Kata silaturahim merupakan kata majemuk yang berasal dari kata-kata Arab, shilat danrahim. Shilat berarti “menyambung”, ”menjalin” atau “menghimpun”. Sedangkan katarahim berarti “kasih sayang”, kemudian pengertian kata ini berkembang sehingga berarti “kandungan”, karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Dengan demikian silaturahim ini dapat dipahami sebagai suatu bentuk sikap atau perilaku yang bisa menjalin dan mempererat rasa kasih sayang di antara kita.

Dikutip dari http://www.nu.or.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s