Refleksi Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW


Teologi Kepemimpinan Isra’ Mi’raj

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang jatuh pada 29 Juni 2011 menjadi momen strategis bagi refleksi kepemimpinan kita. Saat ini bangunan kepemimpinan kita berada di ambang kehancuran. Terungkapnya skandal suap sejumlah pejabat negara, baik di tingkatan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif menjadi bukti nyata betapa kian memprihatinkannya para pemimpin bangsa ini. Fenomena tersebut merupakan event of experience yang menyedihkan dan kian meneguhkan citra negatif pemimpin bangsa ini, yang dalam istilah William Change dikatakan telah terjadi “demoralisasi” di lingkungan wakil rakyat.

Para pemimpin kita saat ini telah kehilangan identitas. Kualitas kepemimpinan tertutup oleh kepentingan-kepentingan individu dan kelompoknya semata. Tidak lagi mewarisi nilai-nilai ketulusan, kebenaran, dan keadilan, sebagaimana pernah diperkenalkan dan diimpikan oleh para pemimpin ideal, sejak rasulullah hingga sekurang-kurangnya khalifah yang yang empat. Pemimpin kita sedang berada dalam situasi krisis spiritualitas dan kehilangan fondasi keagamaan.

Krisis spiritualitas para pemimpin membuat suasana kehidupan masyarakat kian goncang, tercekam, ketakutan, dan kemiskinan yang tidak terpikirkan. Kepentingan politik individu dan kelompok telah menelantarkan kemaslahatan masyarakat. Persoalan-persoalan kebangsaan, seperti nasib TKI di luar negeri, para buruh, serta fakir-miskin yang kian terlantar, sama sekali tidak disentuh oleh pemerintah.

Spirit Isra’ Mi’raj

Di sinilah pentingnya memperingati Isra’ Mi’raj, yakni untuk merefleksikan spirit teologi kepemimpinan Nabi Muhammad selama hidupnya. Sudah bukan waktunya lagi kita memaknai Isra’ Mi’raj hanya semata perjalanan Muhammad di malam hari untuk menerima perintah shalat. Kita mesti menyeret makna peristiwa itu pada konteks yang lebih rill. Sebab, Isra’ Mi’raj penuh labirin dan makna simbolik, baik pada tatanan kemanusiaan atau pun teologi kepemimpinan.

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Shalat lima waktu yang diprintahkan Tuhan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsiri sebagai kewajiban yang sifatnya ritual an sich, melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi.

Jika dicermati, ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa agung ini sebagai spirit kepemimpinan. Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.

Dalam konteks kekinian, jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hati kotor, semisal melakukan suap-menyuap, maka penting juga disucikan, bahkan kalau perlu direndam (dalam penjara). Pemimpin yang hatinya kotor mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Alih-alih mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

Kedua, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjauhi tindakan korupsi, skandal suap dan sek yang akhir-akhir ini kian merebak di kalangan wakil rakyat. Karena tindakan-tindakan tersebut lebih parah dari pada sekedar minum khamar.

Ketiga, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi semua bangsa.

Masyarakat Madani

Keempat, spirit dan etos membangun peradaban yang kuat. Sejarah mencatat, tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Rasulullah dengan para pengikutnya hijrah ke Madinah. Dengan spirit dan etos yang lahir dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan risalah kenabian di Madinah. Lebih dari itu, Beliau juga berhasil membangun sebuah negara kota yang disebut Al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan damai. Negara seperti itu adalah sebuah negeri ideal sebagaimana dicita-citakan para ahli dari Yunani, seperti Plato dan Aristoteles.

Kepemimpinan Nabi di Madinah dinilai sebagai kesuksesan memadukan antara nilai-nilai keislaman dengan spirit demokrasi, yang dalam bahasa Robert N. Bellah disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Menurut Gus Dur, ada lima hal yang diperjuangkan Islam untuk membangun civil society, yaitu pertama, melindungi keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum, kedua, melindungi keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa adanya paksaan untuk berpindah agama, ketiga, menjaga keselamatan keluarga dan keturunan, keempat, memberikan jaminan keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, dan kelima, menjamin keselamatan profesi. Lima hal itulah yang diperjuangkan Nabi selama memimpin Madinah.

Kesuksesan nabi Muhammad dalam memimpin Madinah mendapat apresiasi serius di kemudian hari. Filsuf George Bernand Show berkeyakinan seandainya Muhammad diserahi untuk memimpin dunia modern, tentu berhasil menyelesaikan persoalan dengan cara yang dapat membawa dunia yang dapat membawa dunia ke dalam kesejahteraan dan kebahagiaan. Bernand juga meramalkan, akidah yang dibawa Muhammad akan diterima dengan baik oleh Eropa di kemudian hari. Maka tak heran, jika salah seorang sejarawan barat, Michael H. Hart, menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.

Spirit kepemimpinan nabi Muhammad menemukan momentum untuk diinternalisasikan dalam jiwa-jiwa pemimpin kita saat ini. Momentum Isra’ Mi’raj dapat menggugah bangsa Indonesia dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan keimanan, yang pada titik klimaksnya akan lahir sosok pemimpin yang memiliki integritas kebangsaan dan spirit religiusitas yang agung.

Spirit Membangun Moralitas Bangsa

27 Rajab tahun 620 M silam, Muhammad sebagai rasul menceritakan kepada para sahabat, bahwa ia telah menempuh perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestin), dan naik ke langit yang tujuh hanya dalam satu malam. Ini sebuah kabar menakjubkan serta merupakan awal pencerahan dalam dunia Islam. Malam inspiratif yang sanggup menggugah kesadaran dan menantang intelektualitas serta kreatifitas manusia, sekaligus sebagai tingkat pengukur kecerdasan umat manusia secara luar dalam. Peristiwa tersebut oleh Umat Islam diperingati sebagai Isra mikraj. Kejadian luar biasa itu membuka pintu gerbang pencerahan dunia dan prosesnya mengawal manusia menuju kemajuan peradaban.

Secara implisit perjalanan jarak jauh yang dialami oleh nabi, membawa Sahabat pada garis rasionalitas tingkat tinggi yang mengkomparasikan daya pikiran akal dan hati nurani untuk mampu menerimanya dengan sepenuh hati. Ini pertama dialami oleh sahabat Abu Bakar, ketika mendengarkan tutur nabi tentang perjalanan panjang melewati batas batas langit hanya dalam tempo satu malam, hati kecilnya tidak ada ruang untuk menolak seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal dan kawan kawannya. Abu Bakar sebagai penerus kepemimpinan nabi, sebelumnya telah mampu membaca apa yang ada di sekelilingnya dilihat melalui dua aspek yaitu yang nyata dilihat dengan mata zahir dan yang batin dilihat dengan mata hati.

Menurut Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam,Elemen alam dan sekalian gerak peristiwanya, adalah perutusan yang membawa kabar tentang kekuasaan Tuhan. Kabar itu tidak didengar telinga atau dilihat dengan mata. Ia adalah kabar batin yang menyentuh jiwa secara khusus. Sentuhan batin pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata. Hati hanya mengerti setiap perutusan yang disampaikan oleh supranaturalitas kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itulah yang menurut Thomas Aquinas akan menjadi kunci pada telinga, mata dan akal. Ketika kunci itu telah terbuka, segala suara alam yang didengar, sekalian elemen alam yang dilihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa pada kebanaran tentang kekuasaan Tuhan.

Kecerdasan hati seperti yang dimiliki sang Khalifah Pertama, sangat penting untuk dilatih dan diaplikasikan para pemimpin bangsa kita. pasalnya, para pemimpin sekarang yang mendapatkan amanah dari rakyat, belum sepenuh hati memahami suasana keinginan hati rakyat yang terkait dengan kekuasaan Tuhan. Kasus korupsi masih sering membuat layu jiwa dan harapan rakyat. Para pejabat tinggi negara menjadi tertutup mata hatinya karena materi duniawi. Akibatnya, tindak korupsi secara sembunyi ataupun berjamaah mereka lakukan tanpa merasa bersalah. Para pemimpin bangsa harus berani menunjukan kepemimpinan adil, tegas, membela kepentingan rakyat dan menujukan mereka jalan menuju kesejahteraan hidup bersama.

Cita-cita Luhur

Perjalanan isra mikraj yang penuh misi dan makna tersebut, telah menuai hasil istimewa yang terbingkai dalam solat lima waktu. Menurut Al Jabiri, Solat sendiri mempunyai dua dimensi tak terpisahkan. Yakni dimensi spiritual yang membimbing manusia memasuki alam kesadaran, bahwa ia hanyalah mahluk lemah yang tidak patut untuk sombong ataupun menang sendiri. Dimensi sosial mengajarkan manusia tentang nilai-nilai adiluhung demi menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang berkepribadian utama, berakhlakul karimah, serta memahami setiap hak dan kewajiban dalam hidup berkomunitas.

Peresapan terhadap nilai nilai isra mikraj mampu mendalamkan karakter seorang mengarah pada profesionalisme diri. Dalam konteks Indonesia, kasus korupsi oleh pejabat tinggi yang massif  mengisi berita utama media masa, terjadi karena para pemimpin masih terjebak dalam titik titik butanya sendiri (blinds spot). Bagaimana mungkin untuk keluar dari kemelut korupsi, kalau pemimpin masih terhanyut oleh nafsu dan tidak mau menyelami ajaran moralitas. Para penegak hukum; Polisi, jaksa, hakim yang seharusnya bertanggungjawab menegakkan bendera keadilan dalam mengentaskan problematika masyarakat, malah berkomplot (untuk memperkaya diri sendiri) (Tempo, 20-6-10).

Betapa pilu menyaksikan relitas negatif oleh pemimpin kita, yang perlu dibangun untuk mengembalikan sinergitas kesejahteraan bersama antara pemerintah dengan rakyat adalah, sikap utamanya kejujuran dan saling terbuka, karena sekecil apapun kejahatan terselubung itu pasti akan terkuak juga. Seperti ditulis  J.E. Sahetapy (2010), Para penguasa harus sadar bahwa tidak ada dusta yang bertahan selamanya, demikian pula bahwa kekuasaan hanya semantara.

Ketika praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang merugikan Negara dan hajat orang banyak masih menjadi hobi pejabat dan penguasa, secara langsung mereka telah “berhianat” terhadap bangsa dan Negara. Seorang penghianat lebih berbahaya daripada barisan pasukan tempur yang rela mati. Koruptor yang menggelapkan uang Negara, ia telah merampas kesejahteraan ribuan warga hanya sebatas nafsu untuk memperoleh kemegahan. Seperti kasus korupsi pajak Gayus Tambunan, dana misterius direkening para pejabat Polri. Jika semua itu benar, betapa besar panghianatannya terhadap Negara, ia telah menghacurkan loyalitas publik, mencemarkan nama Indoneisa di mata dunia Internasional.

Isra mikraj sangat tepat menjadi momentum refleksi bagi segenap pemerintah. Bagaimana menempatkan kembali moralitas dan profesionalitas sebagai seorang pemimpin yang bermartabat. Pemimpin yang telah mengerti pesan sosial isra mikraj, akan bersemi dalam jiwanya amanat memimpin, disiplin dan rasa sosial yang kompleks, serta keluar dari lingkaran KKN dan menjadi negara yang berperadaban luhur. Seperti termaktub dalam al Isra [15] :1, kalimat “barakna haulahu” akan terwujud dalam diri pemimpin dengan senantiasa memberi berkah di setiap langkah keberadaannya, dan cita-cita “li nuriyahu” atau “pencerahan” akan terejawantahkan dalam kesejahteraan sosial masyarakat dan bernegara yang demokratis.

Isra’ Mi’raj dan Nilai Kepemimpinan

16-12 bulan sebelum hijrah ke Madinah (Yatsrib), Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa dahsyat. Beliau diperjalankan (isra’) oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Baitul Maqdis di Jerusalem, lalu naik (mi’raj) ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), bahkan melampauinya, serta kembali lagi ke Makkah dalam waktu yang amat singkat.

Ini merupakan bukti bahwa ‘ilm (ilmu) dan qudrat (kekuasaan) Allah meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Ruang dan waktu adalah statistika manusia, perhitungan makhluk, sementara Tuhan adalah Sang Penguasa ruang yang tiada pernah dibatasi oleh ruang, Sang Penguasa waktu yang tiada pernah dipengaruhi oleh waktu.

Di tengah perdebatan tak berujung tentang segala hal yang menyelimuti Isra’ Mi’raj, pendekatan di atas mutlak dikedepankan untuk mendedah misteri perjalanan spektakuler Muhammad SAW dan meneguhkan keimanan umat Islam. Pendekatan imani ini telah dicontohkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala mendengar pengakuan langsung Isra’ Mi’raj dari bibir sang Nabi Agung.

Perdebatan tak berpungkasan tersebut biasanya seputar: apakah perjalanan Isra’ dan Mi’raj Muhammad itu dengan ruh saja, atau ruh dan jasad? Berapa kali Rasulullah Isra’ dan kapan waktu tepatnya? Mengapa pula perjalanan Isra’ mesti dilakukan ke Bait al-Maqdis?

Pun, tentang hakikat tujuh langit, Sidrat al-Muntaha, serta Buraq (kendaraan Muhammad ketika Mi’raj). Juga pertanyaan, bagaimana ihwal Rasulullah bertemu dan melihat Tuhannya (ru’yatullah) dalam mi’raj? Serta, masih banyak lagi sederet pertanyaan yang digulirkan untuk mendedah misteri perjalanan sakral-transendental Muhammad.

Al-Qur’an memang tidak pernah membeberkan peristiwa itu secara rinci dan sharih (gamblang). Al-Qur’an hanya mengisahkannya sekilas dan global. Sehingga, terbukalah ruang interpretasi yang luas bagi siapa pun yang ingin menguak misteri Peristiwa Agung itu.

Tak mengejutkan jika kemudian muncul kubu-kubu yang berseberangan: kubu doktrinal dan rasional, kubu literal dan liberal, serta kubu tekstual dan kontekstual. Semoga saja perbedaan ini hanyalah bagian dari dinamika wacana keilmuan, yang pada muaranya tetap bertujuan ke titik yang sama, yakni peneguhan iman.

Wahyu dan Akal

Kaum empirisis rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui Muhammad tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari gravitasi bumi?

Mengenai ini, acapkali kita (manusia) tidak bisa membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional. Mengapa demikian? Karena manusia adalah makhluk yang serba terbatas.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu.” Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya.”

Nilai Kepemimpinan

Isra’ dan Mi’raj sejatinya memuat pelajaran agung bagi siapa pun dan dalam konteks apa pun, termasuk bagi pemimpin dalam konteks keindonesiaan. Di antaranya: Pertama, purifikasi untuk mencapai integritas moral (akhlaqul karimah), sebagaimana tercermin dalam pembuka surat al-Isra’, yang dimulai dengan ”tasbih”, juga peristiwa pembersihan dada Nabi dengan air zamzam dan disempurnakan dengan wudlu. Dalam konteks keindonesiaan, hal ini dapat diwujudkan dengan reformasi moral yang dimulai dari tingkat aparaturnya.

Kedua, yang tak kalah pentingnya adalah komunikasi yang harmonis dan menghargai sejarah. Ini terefleksi dalam singgahnya Rasulullah di tempat-tempat penting dan bersejarah, kemudian menemui para nabi pendahulunya. Dengan ini kontiunitas kesejarahan dan perjuangan dapat terus dipertahankan bahkan dikembangkan.

Dari hormonisasi kesejarahan inilah seorang pemimpin bisa belajar bagaimana menyikapi umatnya di masa sekarang agar lebih baik. Dalam ungkapan kaidah fiqh, ”Memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik” (Al-muhafazatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah).

Ketiga, dengan dua bekal di atas (integritas moral dan belajar dari sejarah), diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah terjerembab dalam godaan, sebagaimana teladan Nabi ketika menerima banyak godaan di waktu Mi’raj-nya.

Kepemimpinan seperti itu hanya bisa terwujud apabila seluruh aparaturnya tegak lurus, berkeadilan (al-‘adalah), egaliter (al- musawah), konsisten dan disiplin (istiqamah), bertanggung jawab dan dapat dipercaya (amanah), serta mau merundingkan segala persoalan secara bersama (musyawarah).

Jangan sampai menjadi pemimpin yang berlagak sok pintar atau merasa paling tahu segala urusan (tanathu’). Pun, terhadap yang dipimpin jangan sampai mempersulit (tasydid), dan kebijakannya tidak melewati batas kemampuan yang ada (ghuluw) baik bagi yang dipimpin maupun sang pemimpin itu sendiri.

Keempat, merakyat (populis). Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, ajaran kerakyatan ini diteladankan Nabi melalui kerelaannya kembali (turun) ke bumi setelah liqa’ (bertemu) dan ru’yat (melihat) Allah. Padahal pertemuan dengan Allah adalah cita-cita dan tujuan akhir manusia. Mengapa sudi kembali ke bumi? Tak lain untuk menebar misi kesejahteraan dan kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin).

Dan kelima, perintah dari Allah untuk menegakkan shalat, pada dasarnya merupakan simbolisme yang mengajarkan prinsip kepemimpinan, yakni armonizáis hubungan antara hamba (manusia) dengan Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya.

Kepemimpinan dalam shalat tercermin dengan adanya seorang imam (jika berjama’ah). Apabila imam melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya, makmum (pengikut/rakyat) harus menegurnya (dengan cara tertentu yang arif).

Shalat yang diawali dengan takbir (mengagungkan Tuhan) dan dipungkasi dengan salam (kesejahteraan) juga mengandung arti, segala aktivitas kepemimpinan haruslah berlandaskan keagungan Tuhan (nilai-nilai keikhlasan lillah) dan disempurnakan dengan komitmen menyejahterakan umat/rakyat.

Menghidupkan Spirit Transformasi Islam

Di antara komitmen profetis Nabi Muhammad SAW ada dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang jatuh pada malam 27 Rajab. Komitmen itu sangat jelas ketika Nabi bersedia kembali merealitas, meruang dan mewaktu pasca mengarungi pengalaman transendennya. Nabi diberi kesempatan oleh Allah untuk menjelajah dunia malakut yang tak semua orang bisa menjangkaunya. Kalau Nabi menuruti ambisi pribadi, maka beliau cukup bertahan di sana dan meninggalkan gemuruhnya dunia material.

Tapi tidak bagi Muhammad SAW. Nabi agung itu justru turun gunung dengan membawa misi transformasi sosial. Setelah menghadap Tuhannya, ia segera kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perbaikan masyarakat Arab yang ketika itu tengah mengalami pembusukan.

Dengan Islam, Muhammad mampu menggulirkan transformasi sosial yang dahsyat hingga berhasil menancapkan akar peradaban besar di dunia. Atas jasanya yang besar itu, kalau boleh meminjam bahasanya Gramsci, Muhammad adalah seorang intelektual organik. Sosok intelektual yang tidak cukup puas berteriak : “revolusi!” Tapi setelah itu langsung duduk di atas kursi empuk sambil menyeruput kopi. Namun dalam hal ini ia benar-benar terjun langsung menjadi eksekutor lapangan, bekerja keras mengorganiser kekuatan untuk melawan ketidakadilan.

Dekadensi Ummat Islam

Namun, seiring perjalanan sejarah, misi transformasi Islam itu kini mengalami penurunan, kalau tidak boleh dikatakan mati. Hal ini nampak pada kondisi umat Islam yang sekarang tengah tidur panjang. Dalam kondisi dunia yang dikuasai modal sekarang ini, di mana negara sudah tidak mampu lagi melindungi rakyatnya dari dominasi dan hegemoni neoliberal, umat Islam justru terkesan tenag-tenang bahkan asyik menikmati ketertindasannya.

Hal ini tercermin dalam sikap umat Islam sendiri dalam menghadapi fenomena globalisasi. Seperti  pernyataan sebagian tokoh Islam sendiri yang menganggap bahwa globalisasi adalah sunnatullah. Kita tahu globalisasi, dalam konbteks sosial, ekonomi dan politik, adalah strategi neoliberal untuk melanggengkan kuku kolonialismenya di negara-negara berkembang, termasuk negara-negara Islam. Namun anehnya fenomena semacam ini bukan dianggap sebagai tantangan atau ancaman, tetapi justru dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang wajar.

Selain dari itu, banyak sekali institusi-institusi Islam yang pola kerjanya sudah menyimpang jauh dari semangat Islam. Banyak sebenarnya problematika sosial yang diharus digarap oleh lembaga-lembaga Islam semacam MUI, NU, Muhammadiyyah, ICMI, OKI dan sebagainya. Masalah-masalah sosial seperti kemiskinan struktural, kebodohan, keterbelakangan, dehumanisasi, ketidakadilan hukum, diskriminasi, tirani mayoritas dan sejenisnya adalah masalah-masalah umat yang sekarang mencuat di mata lembaga-lembaga agama di atas. Namun dalam praktiknya belum ada satu lembaga keagamaan yang belum mempunyai ghirah secara konkrit untuk menjawab problematika sosial tersebut.

Dalam konteks Indonesia, kita patut bertanya apa tawaran solusi konkrit lembaga-lembaga keagamaan Islam semacam MUI, NU, Muhammadiyyah dan ICMI terhadap masalah masalah yang menimpa bangsa dan masyarakat seperti kemiskinan struktural, korupsi, penggusuran, pengangguran, kerusakan lingkungan, mahalnya biaya pendidikan dan sebagainya. Lembaga-lembaga keagmaan tersebut justru sibuk dengan dunia sendiri yang jauh dari hiruk pikuk masyarakat. Bahkan tak jarang ikut terseret mendukung program atau proyek besar neoliberal yang cenderung menindas.

Dari realitas itu kita tahu bahwa Islam tiba-tiba, dalam pernyataan Mansour Fakih (2002), kehilangan citra diri sebagai pewaris gerakan pembebasan dan penegak keadilan apalagi gerakan alternarif terhadap sistem dan ideologi dehumanisasi masalalu. Hilangnya citra trnasformatif dan liberatif Islam tersebut seolah meneguhkan statemen Marx yang menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat. Islam oleh lembaga-lembaga formalnya hanya difungsikan untuk memberi mimpi-mimpi indah berupa surga, bidadari dan pahala dalam bentuk ritualisme absurd dan tidak memberi tawaran nyata untuk mengatasi problemtika sosial yang menghimpit masyarakat.

Selain dari itu, dan ini yang paling naif, Islam justru banyak dipolitisir dan dikomersialisasikan oleh para pemeluknya sendiri. Parpol Islam banyak bermunculan, perda-perda syari’at diciptakan dan bank-bank syari’ah didirikan, tapi semua itu hanya sebatas strategi untuk menarik massa.

Praktik dan sistem norma yang diimplementasikan justru jauh dari spirit Islam. Di sisi lain, Islam digunakan menjadi ekspresi kebudayaan yang dangkal.  Film-film, sinetorn-sinetron dan novel-novel islami banyak beredar, tetapi hanya memenuhi tuntutan pasar. Sehingga kualitas seni Islam nampak sangat klise dan berselera rendah.

Spirit seni Islam seharusnya terilhami dari realitas kehidupan yang timpang seperti kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan sehingga mampu menjadi kritik sosial yang efektif. Namun untuk sekarang ini, seni Islam hanya ditampilkan secara simbolik-formalis seperti jilbab, dalil-dalil Al-Qur’an, tasbih dan bentuk formalitas lainnya. Pola ekspresi kebudayaan yang market oriented tersebut, dalam faktanya, justru cenderung memperkuat budaya borjuasi, konglomerasi dan konsumerisasi yang semua ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Saatnya Dibangkitkan Kembali

Momentum Isra’ Mi’raj ini harus dijadikan umat Islam sebagai media perenungan dan refleksi yang dalam atas pola keagamaan yang selama ini dipraktikkan. Melihat realitas sosial sekarang yang pengap, timpang dan menindas, Islam harus ditampilkan sebagai agama yang penuh gairah transformasi. Problematika sosial yang tengah menghimpit sekarang ini harus menjadi agenda utama seluruh institusi agama Islam.

Islam, dalam semangat transformasinya, harus bisa menjadi martil atas kuatnya sistem dan idiologi pembangunan modern. Idiologi pembangunan modern terbukti telah gagal menciptakan keadilan dan kemakmuran. Janji-janji kesejahteraan yang ditawarkannya hanya omong kosong. Yang terjadi justru eksploistasi dan dominasi oleh kelompok pemodal terhadap kelompok lemah. Dengan demikian orang-orang yang jauh dari lingkaran kapital, hidupnya semakin termarginalkan.

Maka agenda Islam yang mendesak adalah melakukan perlawanan terhadap sistem ketidakadilan tersebut. Dalam hal ini Islam, secara substansial, harus berani menawarkan pola pembangunan yang holistik. Pola pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada kebebasan individual secara binal tetapi juga penuh dengan kepedulian sosial tinggi.

Begitu pula bukan pembangunan yang hanya lebih mengutamakan kesalehan ritual dan idiologi formal, tetapi yang terpenting adalah aktif dalam proses pembinaan dan advokasi masyarakat. Standar keimanan dan kekafiran tidak semata-mata diukur dari intensifitas dan massifitas praktik ritualitas keagamaan, juga bukan dari persoalan idiologis Islam versus sekuler, tetapi justru dari aspek kualitas kehidupan sosial yang berkeadilan. Oleh karena itu, seperti kata pemikir revolusioner Islam Asghar Ali Enginer bahwa seorang muslim rajin melakukan ritual, tetapi menutup mata terhadap problematika sosial yang ada disekitarnya seperti maraknya kemiskinan dan penindasan, maka sejatinya orang itu adalah kafir.

Dengan demikian, ketika negara kita sekarang dilanda korupsi, penyalahgunaan wewenang, kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan sementara kita hanya cuek saja, pantaskah diri kita menyatakan Islam?

Dikutip dari http://www.nu.or.id

Iklan

One response to “Refleksi Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s