Syeikh Nawawi al-Bantani


Di kalangan pesantren salaf, nama Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi sangat kesohor. Disebut al-Bantani (dengan ejaan Arab), oleh karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Para santri terutama di Jawa, menyebut Ulama Besar yang hidup satu setengah abad silam itu sebagai Nawawi Banten. Ia bukan ulama biasa, tapi memiliki intelektual yang sangat produktif menulis kitab, meliputi fiqih, tauhid, tasawwuf, tafsir, hadis. Jumlahnya tidak kurang dari 115 kitab.

Dalam Ensiklopedia al-Munjid yang ditulis pada awal abad XX oleh Louis Ma’luf, hanya ada dua nama orang Indonesia yang tercantum di dalamnya, yakni Soekarno dan Nawawi Banten. Nama Syeikh Nawawi juga tercantum dalam Dictionary of Arabic Printed Books terbitan Kairo karena dianggap pengaruh beliau yang cukup besar bagi perkembangan Islam di Indonesia pada awal abad XIX.

Kelahiran

Lahir dengan nama Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Konon ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syeikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1813 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Imam Nawawi Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-11 dari Sultan Banten. Nasab beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman beliau di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syeikh Nawawi. Ayah beliau seorang Ulama Banten, ‘Umar bin‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Pendidikan

Semenjak kecil beliau memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaanpertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya keberbagai pesantren di Jawa. Beliau mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.

Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, syeikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah mengkilap sebelia itu, beliau mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun beliau menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syeikh Khatib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni,‘Abdul Hamid Daghestani, Syeikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syeikh Ahmad Dimyati, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad Khatib Hambali. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syeikh Sayyid Ahmad Nahrawi dan Syeikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat kedua Syeikh inilah karakter beliau terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syeikh Muhammad Khatib dan Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Medinah.

Nasionalisme

Tiga tahun bermukim di Mekah, beliau pulang ke Banten. Sampai di tanah air beliau menyaksikan praktek-praktek ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia melihat itu semua lantaran kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihadpun berkobar. Beliau keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja Pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya. Beliau dilarang berkhutbah di masjid-masjid. Bahkan belakangan beliau dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825- 1830 M).

Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syeikh Nawawi terpaksa menyingkir ke Negeri Mekah, tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro padam pada tahun 1830 M. Ulama Besar ini di masa mudanya juga menularkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme di kalangan Rakyat Indonesia. Begitulah pengakuan Snouck Hourgronje. Begitu sampai di Mekah beliau segera kembali Imam Nawawi memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Beliau tekun belajar selama 30 tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Ketika itu memang beliau berketepatan hati untuk mukim di tanah suci, satu dan lain hal untuk menghindari tekanan kaum penjajah Belanda. Nama beliau mulai masyhur ketika menetap di Syi’ib‘Ali, Mekah. Beliau mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tapi makin lama makin jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Maka jadilah Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, tasawwuf.

Nama beliau semakin melejit ketika beliau ditunjuk sebagai pengganti Imam Masjidil Haram, Syeikh Khatib al-Minagkabawi. Sejak itulah beliau dikenal dengan nama resmi ‘Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi dari Banten, Jawa. Piawai dalam ilmu agama, masyhur sebagai ulama. Tidak hanya di kota Mekah dan Medinah saja beliau dikenal, bahkan di negeri Mesir nama beliau masyhur di sana. Itulah sebabnya ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mesir negara yang pertama-tama mendukung atas kemerdekaan Indonesia.

Syeikh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan para muridnya yang biasa berkumpul di perkampungan Jawa di Mekah. Di sanalah beliau menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal, Belandapun mengutus Snouck Hourgronje ke Mekah untuk menemui beliau. Ketika Snouck –yang kala itu menyamar sebagai orang Arab dengan nama ‘Abdul Ghafur- bertanya “Mengapa beliau tidak mengajar di Masjidil Haram tapi di perkampungan Jawa?” Dengan lembut Syeikh Nawawi menjawab: “Pakaianku yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan seorang professor berbangsa Arab”. lalu kata Snouck lagi: ”Bukankah banyak orang yang tidak sepakar seperti anda akan tetapi juga mengajar di sana?” jawab Syeikh: “Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa.”

Dari beberapa pertemuan dengan Syeikh Nawawi, Orientalis Belanda itu mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Syeikh Nawawi adalah Ulama yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa. Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H.Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H.Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), K.H.Khalil Bangkalan, K.H.Asnawi Kudus, K.H.Tb.Bakrie Purwakarta, K.H.Arsyad Thawil, dan lain-lainnya. Konon, K.H.Hasyim Asy’ari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syeikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati K.H.Hasyim Asy’ari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Banten dan dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah. Sang istri wafat mendahului beliau.

Gelar-gelar

Berkat kepakarannya, beliau mendapat bermacam-macam gelar. Di antaranya yang diberikan oleh Snouck Hourgronje, yang menggelarinya sebagai Doktor Ketuhanan. Kalangan Intelektual masa itu juga menggelarinya sebagai al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Syeikh Nawawi bahkan juga mendapat gelar yang luar biasa sebagai al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijaz (Tokoh Ulama Hijaz). Yang dimaksud dengan Hijaz ialah Jazirah arab yang sekarang ini disebut Saudi Arabia. Sementara Para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai “Bapak Kitab Kuning Indonesia.”

Wafat

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah Umat Islam. Syeikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma΄la di Mekah. Makam beliau bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq, Asma΄ binti Abu Bakar al-Siddiq.

Karya-karya

Kepakaran beliau tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syeikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kitabnya “al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syeikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syeikh Nawawi diantaranya adalah sebagai berikut:

  • al-Tsamar al-Yani’ah syarah al-Riyadl al-Badi’ah
  • al-‘Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubin
  • Sullam al-Munajah syarah Safinah al-Shalah
  • Baĥjah al-Wasail syarah al-Risalah al-Jami’ah bayn al-Usul wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
  • al-Tausyih/ Quwt al-Habib al-Gharib syarah Fath al-Qarib al-Mujib
  • Niĥayah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmah al-Din
  • Maraqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Ĥidayah
  • Nashaih al-‘Ibad syarah al-Manbaĥatu ‘ala al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad
  • Salalim al-Fadhla΄ syarah Mandhumah Ĥidayah al-Azkiya΄
  • Qami’u al-Thugyan syarah Mandhumah Syu’bu al-Iman
  • al-Tafsir al-Munir li al-Mu’alim al-Tanzil al-Mufassir ‘an Wujuĥ Mahasin al-Ta΄wil musamma Murah Labid li Kasyafi Ma’na Qur΄an Majid
  • Kasyf al-Maruthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
  • Fath al-Ghafir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musamma al-Kawakib al-Jaliyyah
  • Nur al-Dhalam ‘ala Mandhumah al-Musammah bi ‘Aqidah al-‘Awwam
  • Tanqih al-Qaul al-Hatsits syarah Lubab al-Hadits
  • Madarij al-Shu’ud syarah Maulid al-Barzanji
  • Targhib al-Mustaqin syarah Mandhumah Maulid al-Barzanji
  • Fath al-Shamad al ‘Alam syarah Maulid Syarif al-‘Anam
  • Fath al-Majid syarah al-Durr al-Farid
  • Tijan al-Darary syarah Matan al-Baijury
  • Fath al-Mujib syarah Mukhtashar al-Khathib
  • Muraqah Shu’ud al-Tashdiq syarah Sulam al-Taufiq
  • Kasyifah al-Saja syarah Safinah al-Naja
  • al-Futuhah al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Imaniyyah
  • ‘Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain
  • Qathr al-Ghais syarah Masail Abi al-Laits
  • Naqawah al-‘Aqidah Mandhumah fi Tauhid
  • al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqawah al-‘Aqidah
  • Suluk al-Jadah syarah Lam’ah al-Mafadah fi bayan al-Jumu’ah wa almu’adah
  • Hilyah al-Shibyan syarah Fath al-Rahman
  • al-Fushush al-Yaqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥiyyah fi Abwab al-Tashrifiyyah
  • al-Riyadl al-Fauliyyah
  • Mishbah al-Dhalam’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwib al-Hukm
  • Dzariyy’ah al-Yaqin ‘ala Umm al-Baraĥin fi al-Tauhid
  • al-Ibriz al-Daniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnany
  • Baghyah al-‘Awwam fi Syarah Maulid Sayyid al-Anam
  • al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashaish al-Nabawiyyah
  • Lubab al-bayyan fi ‘Ilmi Bayyan.

Karya tafsirnya, al-Munir, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsir Jalalain, karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal itu. Sementara Kasyifah al-Saja syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safinah al-Naja, karya Syeikh Salim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya beliau lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. Karya-karya beliau di bidang Ilmu Akidah misalnya Tijan al-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya beliau di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munajah, Niĥayah al-Zain, Kasyifah al-Saja. Adapun Qami’u al-Thugyan, Nashaih al-‘Ibad dan Minhaj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf.

Ada lagi sebuah kitab fiqih karya beliau yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci. Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hamper seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya beliau, tentulah tidak mengurangi kualitas kepakaran dan intelektual beliau.

Karamah

Konon, pada suatu waktu pernah beliau mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk beliau sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang beliau diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syeikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidayah alĤidayah itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri beliau itu membawa bekas yang tidak hilang.

Karamah beliau yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsman bin ‘Agil bin Yahya al- ‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta), itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri. Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsman. Diskusi pun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsman tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syeikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syeikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsman. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.

“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah.”Ujar Syeikh Nawawi remaja.

Sayyid Utsman termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syeikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun beliau berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil beliau. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syeikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tandatanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad beliau. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada beliau. Karamah Syeikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsir Munir yang beliau karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kasyifah al-Saja, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashaih al-‘Ibad. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan beliau.

Dikutip dari http://mnurinside.blogspot.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s