Revitalisasi Pluralisme Agama


(Tanggapan atas tulisan Bapak Toto Warsito, M.Ag., Dosen Mata Kuliah Pengantar Studi Islam di STAI PUI Majalengka yang berjudul  “ISLAM, HAM DAN PLURALISME AGAMA” yang dimuat di situs sinarmedia-news.com tanggal 2 Maret 2011. Tanggapan ini juga dimuat di situs tersebut pada tanggal 27 April 2011)

Membaca judul tulisan tersebut di atas kita (lebih) tertarik pada dua kata terakhir, yakni pluralisme agama. Hal ini menarik perhatian karena pluralisme agama menjadi trend topic – meminjam istilah Twitter – pasca terjadinya insiden penyerangan terhadap warga Jemaat Ahmadiah Indonesia (JAI) di Cikeusik, Pandeglang, Banten yang menewaskan tiga orang, serta pembakaran gereja dan sekolah Kristen di Temanggung, Jawa Tengah, yang diduga kuat dilakukan oleh kelompok-kelompok Muslim “garis keras”.

Sebelumnya, pluralisme agama juga menjadi topic yang menghangat (kembali) pasca wafatnya mantan Presiden Adurrahman Wahid (Gus Dur), yang memunculkan usulan dari masyarakat terutama dari kalangan non Muslim termasuk etnis Tionghoa untuk memberikan ‘penghargaan’ kepada Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’. Selama ini istilah pluralisme selalu dikaitkan dengan agama.

Sesungguhnya – kalau kita amati – pluralisme telah mencuat jauh sebelumnya dikemukakan oleh beberapa cendekiawan pengagasnya, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid (Cak Nur), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dan nama-nama yang lain.

Dalam perkembangannya, gagasan pluralisme agama mengalami pengelompokan – setidaknya – menjadi dua: pluralisme agama yang bersifat ekstrim dan pluralisme agama yang bersifat moderat.

A. Pluralisme Agama yang Bersifat Ekstrim

Pluralisme agama yang dimaksud di atas adalah gagasan yang mencoba mempersamakan semua agama. Dalam gagasan tersebut disebutkan bahwa, pertama semua agama adalah sama. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga semuanya tidak ada yang final. Artinya, setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.

Meskipun pluralisme agama bertolak dari keinginan mencari titik temu antara agama-agama yang berbeda dan tidak menyamakan semua agama, namun kaum pluralis ekstrim selain mengakui keberadaan berbagai agama atau kemajemukan, juga menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun porsinya tidak sama. Semuanya itu menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, meskipun caranya berbeda-beda. Itulah definisi pluralisme bagi kaum pluralis ekstrim.

Pluralisme agama yang demikian, dalam pandangan Islam adalah paham syirik, karena membenarkan semua agama. Perlu kita pahami bahwa para ulama Islam sepanjang sejarah, tidak pernah mengembangkan paham ‘kebenaran’ semua agama. Pembahasan pluralisme ini dimaksudkan untuk menelusuri dan menjelaskan makna pluralisme yang dikaitkan dengan agama. Islam tidak mengakui pluralisme agama, jika pengertiannya seperti di atas. Al Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah Islam.” [QS Ali ‘Imran (3): 19].

Seperti kita ketahui Islam bukan agama yang baru pertama kali diperkenalkan Nabi Muhammad SAW kepada ummat manusia, melainkan sudah diperkenalkan sebelumnya oleh para nabi dan rasul terdahulu. Dalam salah satu sabdanya, Nabi Muhammad Rasulullah SAW menegaskan bahwa agama para nabi hanya satu, yaitu Islam. Tidak ada perbedaan antara ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Kalaupun ada, perbedaan itu tidak terdapat pada ajaran-ajaran pokok, seperti keimanan, ketauhidan, keadilan, kebaikan, dan kebersamaan, tetapi hanya terdapat pada penjabaran dan cara pelaksanaan ajaran-ajaran pokok tersebut. Hal itu sudah merupakan Sunatullah agar supaya ajaran-ajaran agama itu dapat dilaksanakan sesuai situasi dan kondisi pada zamannya.

Karena tidak ada lagi nabi dan rasul yang datang sesudah Muhammad SAW, maka agama yang dibawa oleh beliau menjadi agama yang berlaku untuk seluruh ummat manusia dan sepanjang masa dengan syariat yang selalu laras dengan perkembangan zaman dan kemajuan berpikir manusia, baik pada masa Muhammad SAW, masa sekarang dan mendatang hingga akhir zaman. Siapa saja yang menemui Allah SWT setelah diutusnya Muhammad SAW tetap menganut agama yang bukan syariat Islam, tidak akan diterima. Hal ini ditegaskan dalam Al Qur’an: “Siapa saja yang mencari agama selain Islam, amalannya tidak akan diterima sama sekali dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Ali ‘Imran (3): 85]. Maka ketetapan Allah SWT sangatlah jelas, dan tidak bisa ditawar lagi.

Para tokoh agama di negara-negara Barat sering menyebutkan perlunya dialog antar agama. Dari sudut pandang agama Islam, himbauan semacam itu perlu kita waspadai. Islam tidak menolak diadakannya dialog antar agama, melainkan perlu mewaspadai apa tujuan dialog tersebut. Jika dialog dimaksudkan untuk membangun kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang menganut berbagai agama, itu tidak ada masalah sama sekali. Tetapi jika dialog itu dimaksudkan untuk mempersamakan kebenaran semua agama, maka Islam menolak, kecuali jika mereka bersedia berdialog membahas agama mana yang benar.

B. Pluralisme Agama yang Bersifat Moderat

Pluralisme agama yang bersifat moderat adalah persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. Empat kata terakhir sengaja ditulis miring untuk mempertegas sikap kita dalam kebhinnekaan bangsa ini. Sejak pra kemerdekaan, kita menyadari bahwa Indonesia sangat majemuk. Bermacam suku, bahasa, budaya dan agama hidup di dalamnya. Kemajemukan itu menjadi kekuatan dan sekaligus tantangan bangsa Indonesia untuk merajut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kita tidak memimpikan — apalagi memaksakan — Indonesia menjadi negara Islam walaupun Islam merupakan agama mayoritas. Memaksakan Islam sebagai asas atau ideologi negara berarti merelakan bumi pertiwi ini tercabik-cabik oleh pertikaian sesama anak bangsa. Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi. NKRI dengan segala kemajemukannya merupakan pilihan terbaik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar itu, kita menegaskan tiga macam ukhuwah (persaudaraan) dalam pola komunikasinya, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Dengan ketiganya, kita konsisten menjaga dan memperkuat kerukunan intern dan antarumat beragama. Dan sebagai implikasi diakuinya beramacam-macam agama di Indonesia, semua warga negara dituntut siap hidup secara harmonis dengan pemeluk agama mana pun. Perbedaan iman tidak perlu dijadikan alasan membenci, memusuhi atau menyerang pemeluk agama lain. Sebaliknya, perbedaan itu dijadikan sebagai peluang untuk saling membantu, saling mengasihi dan saling menasehati.

Sampai kapan pun agama di dunia tidak akan pernah tunggal. Agama selalu (dan akan terus) hadir dalam bentuk plural. Allah menegaskan hal ini dalam Qur’an Surat al-Maidah ayat 48: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah Kami ciptakan hukum (syari’at) dan jalan hidup. Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah Dia menjadikan kalian umat yang satu. Namun, Dia menjadikan kalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian. Maka berlombalah kalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian kembali; maka Dia akan menjelaskan kepada kalian tentang perkara yang pernah kalian perselisihkan.”

Perbedaan sejatinya bukan hanya terjadi antarumat beragama, tetapi juga di intern umat seagama. Hampir di semua agama terdapat sekte-sekte yang acapkali tidak akur. Dalam Islam sendiri, sejak dulu telah muncul bermacam sekte yang berbeda baik dalam hal-hal “kecil” maupun “besar”. Di Indonesia pun demikian. Terdapat sejumlah perbedaan antara satu kelompok Muslim dengan kelompok-kelompok Muslim lainnya. Jadi, perbedaan merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.

Dengan mengusung nilai-nilai moderatisme (tawassuth wal i’tidal), kesetaraan (al-musawah) dan toleran (tasamuh) secara konsistem, kita terus berupaya membangun perdamaian dengan meminimalisasi serta meredam peluang konflik pemeluk agama. Kita anti kekerasan. Kita lebih mendahulukan tabayun, dialog atau debat untuk mewujudkan kedamaian di kalangan intern atau antarumat beragama.

Kita memahami bahwa Al-Qur’an mewajibkan umat Islam menghormati perbedaan agama. Al-Qur’an mengajarkan dengan baik bahwa penduduk mayoritas wajib melindungi penduduk minoritas tanpa memandang agama dan etnisnya.

Maka tidak berlebihan manakala Robert W. Hefner memosisikan Islam di Indonesia sebagai representasi dari yang disebutnya sebagai Islam berkeadaban (civil Islam), yaitu sebuah praktik budaya demokratis yang dilakukan oleh kelompok Islam inklusif. Kita memberikan perhatian besar kepada proses demokratisasi, pluralisme agama, hak asasi manusia, pemberdayaan masyarakat bawah dan terutama bersikap kritis terhadap negara.

Meski demikian, kita tidak boleh puas dengan “prestasinya” dalam membangun moderasi dan pluralisme, sebab belakangan ini kita mulai melihat citra Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim yang demokratis, moderat dan pluralis mendapat tantangan baru. Reformasi politik tidak hanya mengantarkan Indonesia ke jajaran negara-negara demokratis di dunia, tapi juga mengubah peta pergerakan dan corak Islam.

Beberapa gerakan Islam yang “baru” muncul tampil lebih sangar, kalau tidak mau dikatakan anarkis. Mereka adalah ormas muslim yang mengusung ideologi Islam transnasional yang tidak cocok dengan bangsa Indonesia. Kekerasan demi kekerasan yang dilakukan oleh ormas tersebut bukan hanya mengancam kerukunan umat beragama tetapi juga dapat merusak citra Indonesia sebagai bangsa yang santun, damai dan menghargai keragaman. Inilah tantangan kita ke depan. Kita dituntut untuk terus meningkatkan peran dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara sehingga benar-benar terbentuk wajah Islam Indonesia yang cerdas, ramah, santun, dan damai.

Dialog merupakan salah satu jalan terbaik untuk mencapainya. Maka dari itu, kita dituntut untuk menularkan “virus dialog” kepada siapa saja, terutama kepada ormas-ormas anarkis yang sering mengedepankan pentungan daripada logika. Dengan dialog akan muncul saling memberi dan menerima, saling mendengarkan dan sekaligus saling mengingatkan.

Dalam dialog, target yang hendak dicapai adalah diperolehnya kesepahaman, bukan saling mengalahkan. Tidak ada kalah-menang dalam dialog. Dialog diupayakan untuk mencari titik temu (kalimatun sawaa’) untuk merajut komitmen kolektif di antara berbagai perbedaaan dan keragaman yang ada.

Tentu saja disadari bahwa untuk membudayaan dialog bukan pekerjaan mudah. Diperlukan keberanian dari semua pihak untuk berdialog secara sungguh-sungguh. Dialog yang produktif tidak akan terwujud jika dari masing-masing partisipan tidak ada kesediaan untuk membuka diri, serta ketulusan untuk saling memberi dan menerima. Inilah makna ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal (QS. al-Hujurat: 13).

Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan pentingnya dialog. Diriwayatkan, ketika datang rombongan Nasrani Najran berjumlah 15 orang yang dipimpin oleh Abu al-Harits, Rasulullah berdialog dengan mereka dan mempersilahkan mereka untuk beribadah di Masjid Nabawi, sedangkan Rasulullah beserta sahabat shalat di bagian lain. Pada kesempatan lain, Nabi bersabda, “Dan sesungguhnya sebaik-baik agama di sisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran yang lapang”. Kedua hadits ini memberikan dasar bagi terwujudnya masyarakat yang toleran, inklusif dan damai. Semoga! Wallahu a’lam.

 REFERENSI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s