Teman dan Sahabat


Manusia menurut kodratnya adalah mahluk sosial yang saling memerlukan satu sama lain, saling membutuhkan dan memerlukan pertolongan dari sesamanya. Ayat kedua QS Al-‘Alaq 96: 2 dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW, dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut. Khalaqal insaana min ‘alaq, bukan saja berarti sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet di dinding rahim”. Tetapi juga dipahami sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain, atau tidak dapat hidup sendiri.”

Ayat lain dalam konteks ini adalah QS Al-Hujuraat 49: 13, di mana ditegaskan bahwa “manusia diciptakan terdiri dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, menurut Al-Qur’an, manusia secara fithri adalah mahluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan keniscayaan, dan untuk kepentingan itu semua maka teman adalah suatu kebutuhan.

Semenjak masih kanak-kanak kita telah diperkenalkan bermain dan berteman, yang pada hakekatnya memulai wacana kehidupan melalui interaksi sosial yang paling elementer, yaitu berbagi kepentingan dan kebutuhan melalui media teman.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang memerlukan bukan hanya sekedar teman apabila memerlukan bantuan untuk keperluan tertentu yang lebih bersifat pribadi, maka orang mulai membutuhkan sahabat, atau teman yang lebih dekat, baik dalam arti jarak maupun waktu.

Sahabat adalah teman pilihan kita, dan karena dia itu pilihan kita, maka kita dapat memilih siapa yang pantas sebaiknya akan menjadi sahabat kita. Dalam kaitan ini, perlu kita perhatikan apakah dia dengan segala tingkah lakunya akan sesuai menjadi sahabat yang membantu, atau sebaliknya menjadi penghambat melaksanakan amal baik.

Untuk itu sahabatlah yang diharapkan dapat memberikan nasehat, petunjuk dan pertolongan di waktu seseorang mengalami kesempitan dan menghadapi masalah. Jadi sahabat adalah orang yang jika kita memperoleh kesulitan akan secara terbuka dan mudah kita dapat meminta tolong kepadanya. Sebaiknya apabila kita memperoleh kesenangan atau keuntungan atau kelebihan, dia merupakan orang yang sering kita ingat untuk membagi bersama kesenangan atau keuntungan tersebut. Namun tidak jarang ‘sahabat’ juga sering menghancurkan hidup seseorang.

Adapun teman atau kenalan adalah orang yang berkomunikasi dengan baik dalam berbagai masalah kehidupan tanpa suatu ikatan emosional yang berkesinambungan. Orang bijak mengibaratkan, teman yang baik bak orang yang memiliki minyak kesturi, walaupun tidak tersentuh minyak itu ia akan tetap terasakan aromanya. Sedangkan teman yang buruk ibarat orang yang mendekati tukang besi, walaupun tidak terkena kotoran hitamnya, ia akan tetap terkena asapnya. Petuah lama orang tua di Jawa memberi peringatan agar hati-hati memilih teman melalui pesan: “ojo cedak kebo gupak” yang berarti “jangan mendekati kerbau yang sedang bersimbah lumpur (di sawah)” karena kalau mendekati kerbau itu, ia akan terkena lumpur yang akan mengotori badan kita.

Maka seseorang dipandang baik / buruk pribadinya dengan melihat siapa dan bagaimana teman-temannya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Seseorang bergantung pada agama (keyakinan) temannya. Karena itu, hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Abu Daud).

Untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat dan memilih teman, kita perlu mengantisipasi dengan siapa kita akan berteman, apakah akan mendapat teman semu atau teman sejati. Marilah kita coba mengelompokkan jenis-jenis teman dalam suatu lingkup persahabatan dengan mendasarkan kepada tujuan dari persahabatan itu:

Kelompok pertama, berteman karena kepentingan tertentu. Kebaikan yang diberikan oleh teman kepada kita lebih merupakan topeng yang menyembunyikan maksud tertentu demi mengambil keuntungan bagi dirinya. Bahkan pada suatu saat kalau kita sudah tidak diperlukan lagi olehnya, tidak segan-segan mencampakkan atau membinasakan kita kalau dipandang merugikan baginya.

Dalam dunia bisnis misalnya, hal ini sering dilakukan oleh kelompok pesaing yang menginginkan keunggulan melalui upaya yang tidak terpuji atau licik. Pada tataran hubungan antar negara, dapat dicontohkan upaya negara-negara yang dengan keunggulannya dibeberapa bidang, ingin menguasai negara lain yang lebih lemah demi menguasai sumber daya alamnya dengan berkedok sahabat dan memberikan bantuan, namun di balik itu semua adalah tetap kepentingan dirinya yang diutamakan. Sejarah telah memberikan banyak ilustrasi akan hal ini.

Kelompok kedua, berteman untuk dunia, atau kerennya disebut ‘teman strategis’ yaitu menganggap pada satu saat teman dianggap penting, tapi pada saat yang lain dianggap tidak berarti. Teman yang berpandangan untuk dunia ini perlu diwaspadai, bahkan kesetiannya sebagai teman perlu diuji, jika tak ingin dirugikan dikemudian hari. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai hal semacam ini, baik antara kelompok-kelompok masyarakat, organisasi masyarakat, bisnis dan partai politik, di mana persahabatan disepakati untuk suatu kepentingan yang sama pada masa tertentu.

Kelompok ketiga, berteman untuk akhirat. Yang terakhir ini adalah mereka berteman karena Allah dengan menyadari bahwa aktivitas di dunia adalah bagian dari ibadah, dan dalam melaksanakannya memerlukan bantuan sesamanya. Pertemanan dalam kelompok ketiga ini dapat disebut ukhuwwah Islamiyah, atau ‘persaudaraan secara Islami’. Mereka yang termasuk kelompok ini memandang, berteman semata-mata karena Allah dan untuk mencari keridhaanNya, karena yang menjadi landasan utama dari berteman adalah akhirat.

Dengan mengetahui ketiga jenis teman di atas, maka kita mempunyai pedoman guna mengantisipasi dengan siapa mencari teman, cara bersikap terhadap teman dan bagaimana memilih sahabat, serta langkah dalam membina persahabatan.

Persaudaraan secara Islami, adalah persaudaraan yang diajarkan oleh Islam, ditegaskan melalui beberapa ayat yang mengisyaratkan bentuk atau jenis ‘persaudaraan’ yang disinggung oleh Al-Qur’an, di mana semuanya dapat disimpulkan dalam empat macam persaudaraan:

1. Ukhuwwah ‘ubudiyyah, atau persaudaraan sesama mahluk yang sama-sama tunduk kepada Allah SWT. 2. Ukhuwwah insaniyyah, dalam arti seluruh ummat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu. 3. Ukhuwwah wathaniyyah waan nashab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. 4. Ukhuwwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim.

Untuk menunjang persaudaraan, salah satu faktor yang penting adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh persaudaraan. Persamaan rasa dan cita menjadi faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan yang hakiki, yang pada gilirannya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar sama-sama membutuhkan (take & give), tapi lebih dari pada itu: “Mengutamakan orang lain atas diri mereka, walau diri mereka sendiri kekurangan” (QS Al-Hasyr 59: 9).

Persaudaraan yang Islami ini bersifat global, baik secara individu maupun kelompok, persamaan kesadaran sebagai hamba Allah dan keinginan beribadah membawa semangat saling membantu dan berkorban untuk mengatasi masalah. Hal ini terasa saat terjadinya bencana yang menimpa di sebagian daerah atau belahan dunia, seperti tsunami Aceh, letusan gunung Merapi, bahkan gempa bumi dan tsunami di Jepang baru-baru ini. Bantuan dan pertolongan merupakan aktualisasi bahasa nurani yang merasakan sama-sama ikut menderita.

Guna memantapkan ukhuwwah tersebut, Al-Qur’an juga menggaris bawahi adanya perbedaan, bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Perbedaan tersebut merupakan kehendak Illahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan mahluk di bumi ini. “Untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan kamu satu ummat, tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS Al Maaidah 5: 48).

Apabila seseorang berbuat kebajikan, pada hakekatnya ia berbuat kebajikan untuk diri mereka sendiri, yang dapat menjadi bekal dalam berteman dan dicintai teman-teman, dan semoga diridhoi Allah SWT. Hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an: “Jika kamu berbuat baik, hakekatnya kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jelek, maka kehancuran akan menimpa dirimu sendiri.” (QS Al-Israa’ 17: 7).

(Muhammad Kamal Hs)

Dikutip dari http://almustaqiim.blogspot.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s